Tradisi Baayun Anak (Tugas SKI Kelompok 2) Kelas IX MTs Al Azhar Kandangan

Tradisi Baayun Anak Seorang anak diletakkan dalam ayunan
  1. Asal-Usul Dan Pengertian
 Baayun Anak berarti melakukan aktivitas ayunan/buaian yang biasanya dilakukan oleh seseorang untuk menidurkan anaknya. Dengan diayun-ayun, seorang bayi akan merasa nyaman sehingga ia akan dapat tidur dengan lelap. Upacara Baayun Anak tidak saja diikuti oleh masyarakat yang berada dalam satu wilayah (baca: kampong), tetapi juga dari daerah lain. Bahkan dalam perkembangnnya, upacara Baayun Anak tidak hanya untuk anak kecil tetapi juga orang-orang lanjut usia yang diwaktu kecilnya belum sempat diayun (baca: mengikuti upacara ini). Dengan demikian upacara ini sebagai tradisi masyarakat,maka upacara Baayun Anak akan terus lestari dan akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.


2. Peralatan Dan Bahan-Bahan Upacara
Sebagaimana kegiatan upacara lainnya, upacara Baayun Mulud membutuhkan peralatan pendukung dan bahan-bahan yang menjadi prasyarat sahnya upacara. Adapun peralatan dan bahan-bahan yang dibutuhkan di antaranya adalah: • Piduduk. yaitu sebuah sasanggan yang berisi beras kurang lebih tiga setengah liter, sebiji gula merah, satu buah kelapa, satu telur ayam, benang, jarum, sebongkah garam, dan uang perak. Piduduk ini digunakan sebagai suguhan setelah tradisi selesai dilaksanakan. • Ayunan. Ayunan untuk upacara Baayun Anak biasanya dibuat di tengah ruangan rumah, yaitu membentang di antara tiang-tiang rumah. Ayunan yang dibuat terdiri dari tiga lapis, yaitu: atas, tengah dan bawah. Lapisan paling atas dibuat dengan menggunakan kain sarigading (sasirangan), lapisan tengah menggunakan kain kuning (kain belacu yang diberi warna kuning dari sari kunyit), dan lapisan paling bawah memakai kain bahalai (kain panjang tanpa sambungan jahitan). Ayunan yang telah siap untuk digunakan dalam upacara Baayun Mulud • Hiasan tali ayunan. Adapun hiasan yang digunakan untuk menghias tali ayunan dibuat dari: 1. Janur. Hiasan dari janur biasanya berbentuk burung-burungan, ular-ularan, katupat bangsur, halilipan, kambang sarai, rantai, dan hiasan-hiasan lainnya. 2. Buah-buahan. Buah-buahan yang digunakan sebagai hiasan di antaranya adalah: pisang dan kelapa. 3. Kue tradisional suku Banjar. Makanan khas ini terdiri dari 41 jenis, di antaranya adalah: wajik, apam, kikicak, kalelapon, sarimuka, bingka, lamang, keraraban, wadai balapis, bingka barandam, cucur, katupat balamak, gaguduh, pais, gayam, bubur habang, bubur putih, onde-onde, jalabia atau cakodok, agar-agar, cangkarok, amparan tatak, dadar gulung, puteri salat, hintalu karuang, patah dan lain sebagainya. Penganan khas Banjar

3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Sebagai upacara yang dilaksanakan untuk mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran seorang anak.Yang biasa nya di adakan setelah beberapa hari kelahiran anak.Tradisi ini bisa dilaksanakan di dalam masjid atau di rumah sendiri.

4. Tata Cara Pelaksanaan
a. Tahap persiapan Persiapan untuk melaksanakan upacara Baayun Anak adalah sebagai berikut: • Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan dan mempersiapkan tempat pelaksanaan tradisi.Setelah itu mengundang orang-orang sekitar rumah kita dan mengundang bidan yang telah membantu dalam persalinan. • Setelah itu, dilanjutkan dengan membuat ayunan. Membuat ayunan bisa dilakukan sebelum pelaksanaan tradisi. • Kemudian, tali pengikat ayunan dihias dengan beraneka ragam hiasan seperti janur yang telah dibuat beraneka ragam bentuk, buah pisang, kue kering,bawang merah dan rerumputan yang menjadi ciri khas saat tradisi.Biasanya, kegiatan menghias ayunan dilakukan pada pagi hari menjelang pelaksanaan tradisi. • Pada malam hari menjelang pelaksanaan tradisi Baayun Anak, para ibu sibuk menyiapkan kelengkapan tradisi, seperti kue dan makanan lainnya. Mempersiapkan suguhan acara Baayun Anak • Setelah semua kebutuhan upacara dipersiapan, upacara Baayun Anak segara dimulai. • Acara dimulai dengan do’a selamat kemudian para orang tua segera mengayun putra-putri mereka yang berada di dalam ayunan secara perlahan-lahan dengan cara menarik selendang yang diikat pada ayunan. • Selanjutnya, upacara Baayun Mulud ditutup dengan pembacaan doa dan makan bersama. 5. Nilai-Nilai Islami Pelaksanaan tradisi Baayun Anak merupakan salah satu bentuk nyata akulturasi antara agama dan budaya lokal yang dipengaruhi oleh pemahaman masyarakat lokal terhadap nilai-nilai agama. Oleh karenanya, upacara ini tidak hanya mengandung nilai religious tapi juga sosial, budaya, dan ekonomi. Pertama, nilai religious. Nilai religious dalam upacara ini dapat dilihat pada motif, bacaan dan tujuan dari upacara ini. Pada awalnya, motif penyelenggaraan upacara ini adalah sebagai ekspresi kecintaan dan rasa syukur atas kelahiran seorang anak. Rasa syukur dan kecintaan tersebut kemudian diverbalkan dalam bentuk pembacaan doa-doa. Dan sebagai buah dari rasa syukur dan kecintaan tersebut, mereka mengharapkan agar putra-putri mereka senantiasa mendapat kebahagiaan, syafaat nabi, dan menjadi hamba yang taat kepada Allah SWT. Anak yang diayun diharapkan menjadi muslim yang taat dan bertakwa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya Kedua, nilai budaya. Mengayun anak merupakan salah satu bentuk ekspresi dari nilai-nilai lokal yang hidup berkembang dalam masyarakat. Dengan diayun, seorang anak akan mendapatan ketenangan dan ketentraman karena berada dalam perlindungan dan limpahan kasih orang tuanya. Ia akan merasa nyaman sehingga dapat tidur dengan pulas. Selain itu, pelaksanaan upacara ini, dengan beraneka ragam pernak-perniknya, merupakan salah satu proses pewarisan khazanah lokal masyarakat. Dengan cara ini nilai-nilai lokal diwariskan sehingga dimungkinkan untuk terus lestari. Tim Pengamat / Penulis Kelompok 2
Share this article now on :

Post a Comment

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))