Tradisi "Manajak Rumah" masyarakat Suku Banjar Pahuluan di Kandangan

Tradisi manajak rumah adalah kebiasaan orang atau masyarakat untuk membangun keluarga mandiri , yang biasanya di lakukan oleh keluarga yang baru atau keluarga yang lama yang ingin membangun rumah baru . dalam membangun rumah baru ada tradisi – tradisi yang tidak bisa di lepas dari adat masyarakat seperti, menggantung katupat di tiang yang ingin di tajak ( bahasa banjar ) dengan bermacam macam ketupat ( ketupat bantal, ketupat bawang, ketupat bangsul, ketupat burung, dan ketupat biasa ) selain itu juga di gantung kembang kenanga / bunga kenanga. Menggantung berbagai macam ketupat dan bunga kenanga dahulunya merupakan syariat atau nazar “kata orang tua dulu”. Tetapi sampai sekarang tradisi tersebut tetap di lakukan oleh masyarakat Kandangan.
Tradisi tersebut diakulturasi dengan adat islam, sejak Islam masuk ke Kandangan seperti sholat hajat yang dilakukan sebelum manajak tihang (bahasa banjar), setelah sholat hajat dilakukan acara salamatan dan menyiapkan sedikit air dengan di bacakan do’a selamat, lalu air tersebut dipercikkan ke sekeliling rumah tersebut dengan tujuan mensyukuri nikmat Allah swt , terhindar dari gangguan makhluk gaib dan selamat pada waktu pembangunan maupun setelah di huni, semua itu dilaksanakan setelah shalat maghrib yang dilakukan secara ber urutan. Dalam sudut pandang islam tradisi tersebut dibolehkan saja selama tidak termasuk musyrik, mubazir, dan riba terhadap harta. Selain itu tujuan dari dipasangnya bermacam-macam ketupat dan bunga kenanga untuk terhindar dari gangguan roh (makhluk gaib), agar kehidupan orang yang menghuni rumah, juga bagi orang lain merasa nyaman dan sejahtera apabila berada di rumah tersebut. Dan kata orang tua dulu kembang kenanga berfungsi agar rumah yang di bangun di sukai orang karena kembang kenanga mempunyai bau yang wangi. Adat masyarakat yang terkait dengan manajak rumah di laksanakan ketika akan dipasangi tiang. Biasanya setelah pemasangan kuda-kuda (pondasi). Menurut orang tua dulu bagi wanita yang hamil mandaring (bahasa banjar) atau hamil pertama di anjurkan untuk ikut memegang tiang yang ingin di pasang, bertujuan untuk melancarkan kelahiran bayi yang di kandung. Biasanya dilakukan setelah adzan subuh atau pada pagi hari, tapi sekarang pemasangan yang dilakukan oleh wanita yang hamil pertama dilakukan setelah selesai doa selamat. Pada saat memasang tiang, dilakukan dengan membaca Shalawat Nabi SAW dengan tujuan supaya di berikan berkah, rahmat dan kesejahteraan bagi keluarga yang akan menghuni rumah tersebut. Manajak rumah di awali dengan pemasangan tali pada area yang ingin di banguni rumah, tali tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah di area tersebut ada jalan makhluk gaib atau tidak. Apabila tali tersebut putus maka di area tersebut merupakan jalan makhluk gaib dan orang yang ingin membangun rumah tersebut dianjurkan untuk membatalkan pembangunan tersebut. Jika tali tersebut tidak putus maka pembangunan tidak ada halangannya. Setelah melakukan pemasangan tali tersebut. Kemudian melakukan pembangunan seperti pemasangan tongkat, tiang, kuda-kuda(pondasi), lalu dilakukan acara selamatan dan sholat hajat dengan itu berakhirlah tradisi tradisi masyarakat yang berkaitan dengan islam. Tulisan ini adalah hasil kerja kelompok III Kelas IX untuk tugas terstruktur Mata Pelajaran SKI semester genap Tahun Pelajaran 2012/2013 Tim peneliti Ketua : Nor Zaki Sekretaris : Siti Aisyah Bendahara : Noor Anita Anggota : Ilqa Musliha : M. Firdaus : Rahmani : Rahmad Hidayat : M. Zaini
Share this article now on :

Post a Comment

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))