PENGARUH ISLAM DALAM ILMU ASTRONOMI


Ilmu astronomi disebut juga ilmu falak, yaitu suatu disiplin ilmu yang mempelajari benda benda langit, seperti matahari, bulan dan planet-planet. Pengetahuan tentang posisi benda benda langit tersebut merupakan hasil pengamatan yang dilakukan dengan alat alat tertentu secra berulang ulang.
Para pendeta kerajaan Babylonia pa tahun 3000 SM menemukan dua belas rasi bintang yang mereka anggap sebagai lingkaran, di mana setiap rasi bintang akan berlalu setelah 30 hari. Penemuan mereka itu melahirkan ilmu geometri, ilmu ukur, ilmu hitung dan matematika. Dengan menghitung jalannya bulan dihasilkan hari dan menghitung jalannya matahari dihasilkan tanggal, bulan serta tahun. Dengan begitu muncullah ilmu penanggalan .
Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah, bangsa Arab menjadi penghubung kebudayaan Yunani dan Eropa. Bangsa Arab memiliki sifat kepribadian dan keimanan yang murni. Mereka percaya bahwa manusia semata-mata diciptakan oleh Allah SWT, oleh karena itu segala ilmu yang mereka peroleh dari bangsa Yunani dianggap sebagi amanan yang harus dipelihara dan disampaikan kepada umat manusia. Kemudian bangsa Arab menyusun komentar sebaik-baiknya tanpa memutarbalikkan kenyataan yang mereka peroleh dan menyampaikan hal itu kepada umat manusia.
Para ilmuwan muslim mengembangkan ilmu astronomi karena ilmu tersebut berkaitan erat dengan pelaksanaan beberap ketentuan agama Islam. Di antaranya masalah salat lima waktu, penentuan arah kiblat, penentuan awal puasa dan sebagainya.
Salah seorang astronom muslim yang terkenal ketika itu adalah Muhammad bin Musa Al Khawarizmi. Ia hidup pada tahun 780 - 850 M. Ia menulis sebuah kitab yang berjudul  Mukhtasar fi al Hisab al-Jabr wa al Muqabalah di Bagdad. Kitab tersebut menjadi rujukan Robert Chester dan diterjemahkan ke bahasa Latin dengan judul Liber Algebras et Almurcabola. Sampai saat ini penyelesaian masalah aljabar masih menggunakan cara al-khawarizmi yang dalam bahasa Inggris disebut algorism (algoritme, yaitu urutan logis pengambilan keputusan untuk pemecahan masalah)
Pengaruh Islam (Arab) dalam ilmu astronomi terlihat jelas dalam nama-nama gugusan bintang yang bernama berasal dari bahasa Arab :


Di abad pertengahan, banyak sekali nama-nama ilmuwan astronom Islam dan karya mereka dalam menyumbang peradaban pada masa itu. Salah satu astronom muslim yang banyak melahirkan karya adalah Abu’l Hasan ‘ali ibn ‘Abd al-Rahman atau yang lebih dikenal dengan nama Ibn Yunus. Ibn Yunus adalah seorang astronom muslim abad 10 M yang berasal dari Kairo. Beliau banyak mewarisi tabel-tabel astronomis, seperti pada Gambar 2, 3 dan 4. Gambar-gambar tersebut banyak bersumber dari sejumlah museum di negara muslim, seperti Egyptian National Museum

Ibn Yunus juga menyusun rumus waktu = a(h, ) yaitu sebagai fungsi ketinggian (altitude) matahari h dan bujur (longitude) matahari  untuk kota Kairo (lintang/latitude sebesar 30 N). Ibn Yunus menggunakan nilai kemiringan sudut rotasi bumi terhadap bidang ekliptika sebesar 23,5 derajat. Tabel fungsi waktu tersebut disusun untuk h = 1, 2, 3, …, 83 derajat, dan  = 1, 2, …, 90 dan 181, 182, …, 270 derajat. Tabel tersebut cukup akurat, walaupun terdapat beberapa error untuk altitude yang besar. Ibn Yunus juga menyusun tabel yang disebut Kitab as-Samt berupa azimuth matahari sebagai fungsi altitude dan longitude matahari untuk kota Kairo. Selain itu, disusun pula tabel a(h) saat equinox untuk h = 1, 2, …, 60 derajat.
Tabel untuk menghitung lama siang hari (length of daylight) juga disusun oleh Ibn Yunus. Beliau juga menyusun tabel untuk menentukan azimuth matahari untuk kota Kairo (latitude 30 derajat) dan Baghdad (latitude 33:25), tabel sinus untuk amplitude terbitnya matahari di Kairo dan Baghdad. Ibn Yunus juga disebut sebagai kontributor utama untuk penyusunan jadual waktu di Kairo.
Secara ringkas, sejumlah astronom muslim lainnya adalah sebagai berikut. Al-Mizzi (Damaskus), Al-Khalili (Damaskus), Ahmad Efendi (Istanbul), al-Kutubi (Kairo), Al-Karaki (Jerusalem), Shalih Efendi (Istanbul), Husain Husni (Mekkah) serta Al-Tanthawi (Damaskus) menyusun tabel waktu sebagai fungsi altitude dan longitude matahari untuk latitude tertentu. Tabel waktu sebagai fungsi altitude meridian untuk latitude tertentu dibuat oleh ‘Ali ibn Amajur (Baghdad), Al-Tusi (Maroko), dan Taqi al-Din (Istanbul). Tabel waktu untuk terbit matahari atau bintang tetap untuk seluruh latitude disusun oleh Najmuddin al-Mishri (Kairo). Tabel waktu malam sebagai fungsi right ascension bintang untuk latitude tertentu disusun oleh Syihabuddin al-Halabi (Damaskus) dan Muhammad ibn Katib Sinan (Istanbul).
Tabel-tabel penting lainnya yang menyingkap pergerakan dan altitude matahari dan bintang juga disusun oleh Abul ‘Uqul (Taiz), Ibn Dair (Yaman), al-Battani (Raqqa), Sa’id ibn Khafif (Samarkand), Ibn al-‘Adami (Baghdad), Al-Marrakushi (Kairo), Muhyiddin al-Maghribi (Maroko), Husain Qus’a (Tunisia), Najmuddin al-Mishri (Kairo), al-Salihi (Syria), al-Khalili (Syria), Abu al-Wafa (Baghdad) dan lain-lain.
Jenis tabel-tabel lain yang juga disusun adalah tabel sinus deklinasi matahari oleh al-Khalili (Syria), Ridwan Efendi (Kairo) dan Taqi al-Din (Istanbul). Tabel cosinus deklinasi matahari oleh Habash (Baghdad), ‘Abdallah al-Halabi (Aleppo) dan sejumlah penyusun anonim dari Tunisia, Kairo dan Baghdad.
Referensi : 
  1. Darsono.H & T. Ibrahim .2009.Tonggak Sejarah Islam.Solo:PT.Tiga Serangkai.
  2. http://www.eramuslim.com/peradaban/ilmu-hisab/warisan-astronom-muslim-abad-pertengahan.htm

Posted via Blogaway
Share this article now on :

Post a Comment

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))