Sejarah Timbulnya Upacara Manakib di Indonesia

Pengertian "Manakib"
Kata "manakib" artinya riwayat hidup. Biasanya penggunaan kata ini banyak dikaitkan dengan sejarah kehidupan seseorang yang dikenal sebagai tokoh besar di masyarakat. Seperti tentang perjuangannya, silsilahnya, akhlaknya, sifat-sifat yang baik dan sebagainya (Muhammad Marwan : 2011,1).

Manakib yaitu riwayat hidupnya orang-orang yang sholeh. Sedangkan riwayat orang-orang zholim tidak disebut manakib. Dalam Al-Quran dikatakan: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar". 
(At-Taubat 100). 

Terbuktilah bahwa orang-orang yang mendapatkan kenikmatan dari Allah adalah orang yang mengikuti jejak langkahnya orang-orang yang mengikuti kepada Rosululloh saw. 
Tiap tarekat mempunyai manaqibnya masing-masing, yang semuanya itu merupakan pelajaran yang mulia kepada yang mengikutinya. 
Firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya adanya riwayat hidup para leluhur itu adalah pelajaran untuk seluruh manusia yang mempunyai akal". 

Di dalam manaqib sering diterangkan keanehan-keanehan yang mempunyai manaqib tersebut yang disebut dengan karomah, yang tidak bertentangan dengan keanehan-keanehan yang diterangkan oleh Allah di dalam Al-Quran. 
Karomah juga disebut Khowariqul Adat (perkara yang luar biasa). Kejadian-kejadian aneh/luarbiasa  dikategorikan sebagai berikut: 
1) Irhash, yaitu perkara luar biasa dari seseorang yang akan menjadi nabi. 
2) Mu'jizat, yaitu perkara luar biasa yang keluar dari seorang nabi. 
3) Karomat, yaitu perkara luar biasa yang keluar dari seorang wali (orang yang mengikuti jejak langkah nabi). 
4) Ma'unat, yaitu perkara luar biasa yang keluar dari seorang mu'min yang mengikuti jejak langkah wali. 
5) Istijrod, yaitu perkara luar biasa dari seseorang yang mengikuti jejak syetan. 
Yang lima perkara ini walaupun dianggap di luar kebiasaan, tetapi kalaulah diukur oleh akal tidak menjadi aneh, karena menurut penjelasan Nabi saw; akal itu dibagi kepada 3 fungsi, yaitu: 
1) Akal berfungsi untuk ma'rifat kepada Allah dan semua perkara yang datang dari Allah swt.
2) Akal berfungsi untuk melaksanakan ta'at kepada perintah dari Allah swt. 
3) Akal berfungsi untuk mencegah ma'siat yang dilarang oleh Allah swt. 
Seumpamanya seseorang telah bisa menggunakan akalnya sesuai dengan fungsinya, maka orang tersebut tidak akan menolak kepada karomahnya para wali atau apapun sesuatu yang aneh-aneh, maka akal tersebut tergolong AKAL YANG SEHAT, yang bisa menjadikan sehat jasad, nyawa dan rasanya. ( http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/05/pengertian-manaqib.html#ixzz2yd9ruPpJ) 
Pada umumnya masyarakat Islam Indonesia  memberikan pengertian manakib ini dikaitkan dengan riwayat Sayyidah Khadijah al Kubra rda., Syekh Abdul Qadir al Jilani ra, Syekh Samman al Madani dan lain-lain dari berbagai sisi, misalnya dari sisi ibadahnya, akhlaknya, silsilahnya, keramatnya dan sebaginya.
Adalah perlu sekali masyarakat Islam mengetahui tentang sejarah timbulnya upacara pembacaan manakib (upacara manakiban) dengan maksud agar kita sebagai umat Islam dengan jelas dan jujur memahami latar belakang adanya upacara tersebut yang hingga saat ini terus berkembang di kalangan masyarakat Islam di Indonesia. Jika faktor sejarah ini sengaja disingkirkan, maka wajar terjadi pemahaman yang keliru.
Sebenarnya sejak zaman dahulu, baik sebelum Nabi Muhammad SAW lahir maupun sesudah wafatnya, maka manakiban itu sudah ada dan diterangkan di dalam al Quran. Seperti dapat dilihat bahwa di dalam Al Qur'an telah diceritakan dengan jelas sekali adanya manakib Siti Maryam, Dzul Qurnain, Ashabul Kahfi dll. Begitu juga setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW banyak bermunculan manakib seperti Manakib Abu Bakar Shiddiq RA, Manakib Umar RA, Manakib Imam Syafi'i dan sebagainya. hal ini terjadi karena memahami firman Allah SWT : 

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ فَإِذَا جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْمُبْطِلُونَ (٧٨)

"Dan Sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. tidak dapat bagi seorang Rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; Maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil." (QS.Al Mu'min:78)

 Dan di ayat yang lain Allah SWT berfirman :

وَرُسُلا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا (١٦٤)

"Dan (kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung (QS.An Nisa :164)
Dua ayat di atas apabila diteliti maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
  1. Kita dianjurkan Allah SWT untuk mengadakan penelitian sejarah, baik bersumber dari Al Qur'an, Al Hadits dan sumber lain yang dapat dipercaya;
  2. Apabila sejarah tersebut sudah dapat diteliti, maka hasilnya sianjurkan untuk disampaikan kepada umat Islam baik secara lisan maupun tulisan;
  3. Kesimpulan tersebut dikarenakan banyak sejarah para nabi, shalihin dan awliya yang belum diterangkan oleh Allah SWT di dalam Al Qur'an.
 Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membicarakan kontroversi dan silang pendapat mengenai hukum membaca manakib, karena masing masing pendapat mengklaim memiliki dalil dan hujjah, ada yang mengatakan sunnah, ada yang menganggap bid'ah. sampai kapanpun kontroversi semacam ini tidak akan pernah bisa dikompromikan, sama halnya perbedaan pendapat tentang membaca Qunut dalam shalat dan sebagainya. Persoalan manakiban adalah sebuah realita tradisi dan budaya yang berkembang dan memperkaya khazanah budaya Indonesia yang sangat majemuk.
Marilah kita bersikap lebih dewasa dalam menghargai perbedaan pendapat di kalangan umat Islam, mari kita teladani bagaimana sikap para ulama besar pendahulu kita manakala mereka berbeda pendapat, sungguh indah sikap mereka. Tidak salah bila Nabi SAW menyatakan "perbedaan di kalangan umatku adalah merupakan rahmat". Wallahu A'lam bish shawaab.
 
Referensi :
  1. Marwan, H. Muhammad. 2011. Manakib Syekh Muhammad Samman Al Madani. (Kandangan: TB. Sahabat)
  2. http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/05/pengertian-manaqib.html#ixzz2yd9ruPpJ)


Share this article now on :

Post a Comment

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))