MENGUKUR KADAR STRESS


Stress adalah sebuah kata singkat yang akrab dengan kehidupan masyarakat modern dewasa ini, berbagai persoalan hidup kerap membebani manusia di abad milennium ini mulai dari persoalan ekonomi, keluarga, bisnis hingga hubungan cinta. Semakin banyak persoalan yang dihadapi seseorang maka tingkat kemungkinan terkena stress juga semakin tinggi.
Adalah seorang Professor berkebangsaan Amerika, bemama Thomas Holms, menyatakan bahwa rohani manusia selalu mendapatkan beban berupa tekanan batin, yang diistilahkan dengan "stres". Ada yang datang secara temporer, seperti yang terjadi terhadap penduduk di desa-desa, umpamanya panen gagal; mereka mendapat stres, tetapi hal ini tidak membahayakan. Ada yang datang secara kontinyu, ini tenadi bagi penduduk di kota-kota sedang, dimana problema kehidupan mulai rumit, seperti pemadaman lampu mendadak, air macet, telepon putus dan lain sebagainya, hal ini cukup membahayakan. Ada yang "douer stres", ini dialami oleh penduduk yang hidup di kota-kota besar/metropolitan, di mana berbagai persoalan terus terjadi secara beruntun, seperti kenaikan bahan pokok, macetnya lalu lintas, kenakalan remaja, ditambah dari problem yang dihadapi oleh penduduk di kota kecil. Hal ini sudah amat membahayakan'
Thomas Holms menilai bahwa manusia mempunyai kemampuan terbatas dalam menanggung beban stres. Ia
membuat suatu teori dengan sistem nilai; antara lain yaitu: Mendapat hukuman ringan skor 11; Berat badan bertambah skor 15; Obrolan mengecewakan skor 15; Pindah sekolah/tempat skor 20; Pertengkaran skor 28; Dimarahi atasan skor 23; Naik pangka atau tugas baru skor 39; Tambah keluarga skor 39; Hamil skor 40; Keluarga sakit skor 44; Kecelakaanisakit skor 53; Berpisah dengan yang dicintai skor 65; Bercerai skor 73; Kematian orang yang dicintai (suami,istri, anak)skor 100. Tekanan s/d nilai 150 tidak membahayakan, Dari nilai 150 s/d 300, sudah membahayakan. Nilai 300 ke atas amat membahayakan jiwa seseorang karena akan berakibat menjadi serangan jantung, Sebagai contoh seorang suami mempunyai istri dan anak,  pagi-pagi sang istri minta uang belanja, ternyata ia tidak bisa memenuhinya. Dari sini timbullah sejumlah kasus yaitu: Problema ekonomi, dimana ia mengantongi skor nilai stres 38. Terjadi pertengkaran suami istri, nilai tekanan 29. Selanjutnya ia berangkat ke kantor terlambat, dimarahi atasan; skor bertambah 23. la ngomel dan ditanya kawan, terjadi obrolan yang mengecewakan dengan teman; skor bertambah 15. Semua ini berjumlah menjadi 105. Sampai di sini belum membahayakan, tetapi bila masalah ini tidak terselesaikan, maka nilai awal 105, akan membengkak dengan problema lainnya, umpamanya: Ketika ia pulang terjadi kecelakaan, lalu sakit; skor bertambah 53. Biaya pengobatan tidak ada; kembali muncul problema ekonomi,
skorpun bertambah 35. Sampai di sini maka skor berjumlah 193. Nampak nilai stres terus membengkak dari hari ke hari; sehingga bila tidak ada penyelesaian maka bahayapun mulai timbul baginya. Demikian seterusnya terus menumpuk, sehingga bila mencapai skor 300 ke atas tanpa penyelesaian maka hidupnya memikul beban stres yang tidak terpikul oleh batinnya.

Referensi : K.H. Husin Naparin, Lc.,MA. Fikrah, Refleksi Nilai-nilai Islam Dalam Kehidupan. 2003 (Jakarta : El Kahfi)

Share this article now on :

Post a Comment

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))